Firman Venayaksa

Firman Venayaksa lahir di Cianjur, pada tanggal  2 September 1980.  Ia dibesarkan di Rangkasbitung, Banten. Tulisannya tersebar di berbagai media seperti Republika, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Annida, dan Sabili. Ia adalah alumni SMU 1 Rangkasbitung, alumni Universitas Pendidikan Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan alumni  pascasarjana FIB UI.  Ia aktif dalam beberapa komunitas kesastraan, seperti  Komunitas Musikalisasi Puisi Hajar Aswad, Rumah Dunia,Serang, Komunitas Rumput Liar-Depok, Arena Studi dan Apresiasi Sastra-Bandung. Ia juga merupakan dosen di Untirta (Universitas Negeri Tirtayasa),  presiden Rumah Dunia, dan komunitas Ki Amuk.

Di saat waktu luangnya, Firman selalu menyempatkan untuk menulis, membaca, membuat lagu dan karya sastra. Ia juga suka membiasakan diri untuk melakukan perjalanan dan bersunyi.

Ada beberapa karya Firman yang sudah diterbitkan, yaitu:  Ini Sirkus Senyum (Bumi manusia, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Sembunyi Sampai Mati (SSU+S3, 2003), Kacamata Sidik (Senayan Abadi, 2004), Padi Memerah (MU3, 2005), Perjalanan Sunyi (Senayan Abadi, 2005), Panggil Aku Ibu (Senayan Abadi, 2005), Ketika Penulis Jatuh Cinta (LPPH, 2005), Addicted 2 U (LPPH, 2005). Ia juga menerbitkan novel Perdana Firman Sayap-sayap Ababil,  Dwilogi (MU3, 2005),  dan Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia, 2005)

Sejak 1 Januari 2009 Ia bergabung dengan komunitas Ki Amuk sebagai sebuah komunitas yang terlahir dari komunitas Rumah Dunia pimpinan Gola Gong. Ia berperan sebagai vokal dan gitar, bahkan ia  sudah berani mengeluarkan sebuah album musikalisasi puisi yang diproduksi oleh Lawang Bagja dan diberi label “MencariPelangi” yang diambil dari judul puisi karya Gola Gong.

Komunitas Ki Amuk pernah menampilkan konser musikalisasi puisi di Auditorium Untirta. Serang Kompas Com memberitakan bahwa Ki Amuk mampu menghipnotis ratusan mahasiswa Universitas Agung Tirtayasa (Untirta). Konser tersebut dihadiri oleh 300-an penonton yang sebagian besar mahasiswa Untirta Serang dan sebagian pelajar serta masyarakat umum dari wilayah Banten dan luar Banten.

Personal Ki Amuk terdiri atas Firman Venayaksa (vokal dan gitar), Asep SP (biola), Wahyu Wiyata (Gitar), Rizal Alangalang, dan Roy Goozly (perkusi). Seluruh penonton terpana ketika kelima relawan Rumah Dunia tersebut menampilkan puisi berjudul “Lara Yang Maha’ karya Firman yang juga Presiden Rumah Dunia serta dosen Untirta Serang.

Puisi ’Lara Yang Maha’ yang didendangkan dengan alunan lambat ini berhasil memanjakan penonton. Peran biola yang menonjol terdengar lirih dan syahdu sehingga tak nampak satupun penonton yang mencoba bergeser dari tempat duduknya. Semangat dan gairah para penonton semakin tersulut ketika menginjak lagu ketiga, Ki Amuk menampilkan sebuah puisi karya  Toto ST Radik yakni “Mimpi Api” yang didendangkan dengan nada yang sedikit tinggi, bahkan salah satu senar gitar milik salah satu personel putus.

Ada 12 puisi yang berisikan tentang cinta, keluarga, rakyat dan pemerintahan ini disuguhkan oleh Ki Amuk. Mereka mampu berkolaborasi dengan baik meski para personel Ki Amuk berbeda latar belakangnya Mereka mampu menyajikan puisi ke dalam bentuk musik boleh diacungi jempol.

Postingan Terkait