Galau: Dari Makna Konkret ke Makna Metaforis

“Lagi galau.” Itulah ungkapan yang sedang populer. Intensitas penggunaan kata galau yang tinggi sekarang ini telah menempatkan kata ini menjadi bagian dari kosakata bahasa gaul kita. Kita maklum, kalangan selebritilah yang punya jasa pertama “menggaulkan” kata ini. Para selebriti memang cerdik menggunakan kata sebagai sarana mempertahankan popularitas. Kini, pemakai aktif kata galau bukan kalangan selebriti saja. Kita yang bukan dari kalangan selebriti pun ikut pula menjadi pemakai aktif kata ini. Bahkan, salah seorang anggota DPR RI kita, Bambang Soesatyo, ikut menambah popularitas kata ini dengan menulis sebuah buku yang berjudul Republik Galau.

Sekarang, tampaknya kata galau telah berhasil memayungi kata resah, gelisah, khawatir, kalut, cemas, dan bimbang. Tampaknya, kata-kata tadi telah menjadi hiponim kata galau. Kata galau benar-benar dianggap pas mewakili suasana hati orang yang sedang resah yang pikirannya sedang terombang-ambing dalam kebingungan. Kata galau cocok untuk menggambarkan pikiran kita yang sedang kalut karena dibebani banyak masalah. Kata galau sangat “cucok” untuk menggambarkan pikiran orang yang sedang cemas karena ia sedang dikejar-kejar penagih utang atau ia sedang disidik KPK! Kata galau pun dianggap tepat untuk menggambarkan suasana hati orang yang sedang bimbang karena hubungan cintanya masih mengambang.

Merasa galau dengan kata ini, dalam kolom ini saya ingin menjelaskan bahwa persepsi kita terhadap makna kata galau lebih sempit dari makna yang dipaparkan oleh kamus. Penelaahan makna kata galau dalam Kamus Besar bahasa Indonesia Ke-3 (KBBI) menunjukkan bahwa kata galau bermakna ‘sibuk beramai-ramai’, ‘ramai sekali’, dan ‘kacau tidak keruan (pikiran)’. Ada bedanya kan dengan persepsi makna yang ada dalam pikiran kita? Ternyata, dalam kamus KBBI, makna kata galau bukan hanya ‘(pikiran) kacau tidak keruan’, tetapi juga ada makna lainnya di luar dugaan banyak orang.

Berdasarkan urutan penjelasan makna dalam KBBI tadi, kita melihat bahwa makna ‘pikiran kacau tidak keruan’ tidak ditempatkan di posisi awal. Makna ‘sibuk beramai-ramai’ dan ‘ramai sekali’ justru ditempatkan di posisi terdepan untuk menjelaskan kata galau. Kedua makna ini terasa lebih konkret daripada makna ‘pikiran kacau’ karena situasi sibuk dan ramai dapat dengan mudah dipersepsi oleh pancaindera kita daripada situasi pikiran kacau.

Memang sudah menjadi kelaziman para penulis kamus menempatkan makna konkret terlebih dahulu daripada makna abstrak atau makna metaforis (kiasan). Hal ini sejalan dengan teori dalam ilmu semantik bahwa makna yang lebih abstrak atau metaforis berasal dari makna yang konkret. Dengan kata lain, seiring dengan perjalanan waktu, makna konkret cenderung akan bertambah dan bergeser ke makna abstrak atau makna metaforis. Jadi, tidak mengherankan jika dalam kamus bahasa, makna yang lebih abstrak atau metaforis sebagai makna tambahan ditempatkan setelah makna konkretnya.

Atas dasar kerangka teori tadi saya menduga kuat bahwa kata galau yang bermakna ‘pikiran kacau’ lahir dari makna konkretnya, yaitu ‘sibuk beramai-ramai’ atau ‘ramai sekali’. Makna ‘pikiran kacau’ tidak lahir bersamaan dengan makna ‘ramai sekali’ atau lahir tanpa asal-usul yang jelas. Kita dapat berhipotesis bahwa dahulu kata galau tidak memiliki makna ‘pikiran kacau’, tetapi hanya bermakna ‘sibuk beramai-ramai’ dan ‘ramai sekali’.

Ilustrasi berikut mungkin dapat menjelaskan maksud saya. Bayangkan situasi hiruk pikuk di sebuah desa yang masyarakatnya sedang bergotong-royong membangun sebuah masjid atau situasi di sebuah pasar tradisional sehari menjelang Lebaran. Anda boleh membayangkan pula situasi di lantai bursa saham ketika terjadi banyak pembelian dan penjualan saham. Itulah situasi galau, yaitu situasi yang sangat ramai dan sibuk.

Secara psikologis keramaian dan kesibukan atau kegalauan akan cenderung menimbulkan kecemasan, kekacauan pikiran, kekalutan, kebimbangan, atau keresahan. Lambat laun, orang akan menambahkan atau mengembangkan makna pada kata galau dengan makna ‘pikiran kacau’, ‘kalut’, ‘cemas’, dsb. Pada akhirnya, orang melupakan makna awal (makna konkret) kata galau, yaitu ‘ramai sekali’ dan mengukuhkan makna ‘pikiran kacau’ sebagai makna utamanya. Jadi, makna kata galau ‘pikiran kacau’ yang ada dalam kognisi kita sekarang adalah makna metaforisnya dari makna ‘ramai sekali’.

Penambahan dan pergeseran makna seperti ini adalah hal yang lumrah terjadi di semua bahasa. Contohnya, kata island (Inggris) yang asal-usulnya dari bahasa Latin awalnya bermakna ‘terpencil’, bukan ‘daratan yang terpisahkan oleh perairan’. Lama-kelamaan, ‘makna terpencil’ dilupakan orang dan mereka memelihara makna ‘daratan yang terpisahkan oleh perairan’ dalam alam pikirannya. Kemudian, makna ini diregenerasikan terus hingga kini. Jadi, makna kata island yang dipersepsi sekarang oleh penutur bahasa Inggris sebenarnya merupakan metafora dari makna ‘terpencil’, yaitu makna terdahulunya atau makna konkretnya.

Yusup Irawan

Staf Bidang Pembinaan di Balai Bahasa Jawa Barat.

Postingan Terkait